skip to main | skip to sidebar
zonapurple

Jumat, 02 Mei 2008

SAHABAT PURPLE

PEACE N LOVE
Diposting oleh sahabat purple Jakarta 04.15 1 komentar:
Postingan Lebih Baru Beranda
Lihat versi seluler
Langganan: Komentar (Atom)

favorit

  • buat posting kamu

suka suka

Powered By Blogger

SAHABAT PURPLE

SAHABAT PURPLE
peace n love' say not to drugs

Arsip Blog

  • ▼  2008 (3)
    • ▼  Mei (3)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ▼  Mei 02 (1)
        • SAHABAT PURPLE

Mengenai Saya

Foto saya
sahabat purple
Jakarta, Indonesia, Indonesia
peace n love humanity, say no to drugs
Lihat profil lengkapku
 

-- Promosi Untuk kamu yang mo kuliah S1 & S2 --

  • UNIVERSITAS ISLAM AZZAHRA

unek-unek atau artikel sahabat purple

Usaha-usaha untuk mengembalikan kebentuk semula pemahaman dan kecintaan umat kini terhadap Islam merupakan titik tolak penting ke arah pencapaian cita-cita Islam. Memandang usaha-usaha ini merupakan langkah permulaan ke arah kemaslahatan umat maka cendikiawan atau para pemikir di dalam wadah Islam mestilah menyadari bahwa mereka adalah berperan besar memikul tanggungjawab dalam menentukan aliran perjuangan dan kadar pencapaian cita-cita Islam. Tanggungjawab besar ini tidak mungkin dapat mereka lalui dengan jayanya jika tidak dibekali dengan pemahaman terhadap Islam dan inti dari sebuah pemahaman dan kecintaan ini yang merupakan satu keperluan asas kepada para da’i khususnya bagi mereka yang memegang amanah sebagai cendikiawan atau para pemikir islam.

Satu hakikat yang wajib diakui bahwa cara pendekatan ini bukan milik individu tertentu yang dapat di pisahkan dan dirombak-ganti mengikut selera. Sejak awal mulanya telah memaparkan dalil-dalil bahwa pemikiran Islam telah mempunyai cara-cara yang tersendiri dan kaedah-kaedah ini telah ditentukan. Dengan yang demikian mereka yang benar-benar ingin mencapai cita-cita kelslaman melalui ‘wadah’ yang disertainya wajib mengikuti dan memelihara cara-cara (manhaj) ini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh peninggalan Rasullulah SAW.

Sayangnya perintah wajib dari Allah SWT yang mengutuskan Nabinya Muhammad yang mulia itu sebagai suri tauladan yang sebaik-baiknya (Uswah-Hasanah) telah tidak dihayati dan dicontoh dengan benar oleh kebanyakan umat Islam kini. Oleh yang demikian usaha-usaha mendidik dan menggerakkan kebentuk semula masyarakat Islam melalui pengajaran dan perjalanan hidup Rasullulah SAW perlu diberi nafas baru untuk manfa’at perjuangan hidup umat Islam. Usaha-usaha ini dapat dimulai dengan memperbanyak dan memperkemaskan penyebaran risalah Rasullulah SAW ke dalam masyarakat kaum Muslimin. Lantaran menyadari betapa pentingnya penyebaran Risalah Islam yang wajib ditimba dan ajaran Rasullulah dalam usaha memelihara kemurnian serta keaslian ajaran Islam maka para ‘ulama’ terdahulu telah tidak teragak-agak untuk tampil ke muka merintis jalan yang mulia itu dan hasilnya dapat kita nikmati khazanah-khazanah berharga yang sarat termuat di dalam kitab-kitab mereka.

Sejauh yang dapat diketahui kegiatan penulisan ini telah bermula sejak zaman tabi’in. Di antara mereka dan angkatan terawal ialah Abban Bin ‘Uthman Bin ‘Affan Radiya Liahu ‘anhuma (32 - 105H), ‘Urwah Bin Zubair Bin ‘Awwam (23 - 93H), Wahb Ibn Al-Munabbih (wafat 101H) ‘Abdullah Bin Abi Bakar Bin Hamz Al-Ansary ( - 135H), Muhammad Bin Muslim Bin Syihab Al-Zuhri (50 — 124H) Beliau ini adalah orang yang pertama berusaha membukukan Hadits-hadits Rasullulah di zaman pemerintahan ‘Umar Bin ‘Abdul ‘Aziz, ‘Asim Bin ‘Ammar Bin Qatadah Al-Ansary (wafat 129H), Musa Bin ‘Uqbah (wafat 141H) dan Mu’ammar Bin Rashid (wafat 150H). Sayangnya menurut ahli sejarah hasil penulisan mereka tidak sampai kepada kita.

Angkatan selepas merekalah nampaknya yang lebih kita kenali karena serpihan hasil pena mereka mengalir juga kepada kita. Di antara mereka yang paling masyhur ialah Muhammad Bin Ishaq Bin Yasar (18 — 151H) dengan karyanya Al-Maghazi Wa Al-Siyar (Sirah RasuluLlah) yang di katakan sumber yang paling dapat dipercayai. Sayangnya kitab ini juga telah hilang.

Selepas angkatan di atas kita dapat melihat ramai penulis penulis hingga zaman muta’khir yang mengkhususkan tulisan-tulisan mereka dan berbagai-bagai sudut. Di antaranya ialah Dala’il A1- Nubuwwah oleh Al-Isfahanny, A1-Syama’il A1- Muhammadiyyah karangan Al-Tarmizi (209H - 279H) Za dul-Ma’ad oleh Ibnu’l Qayyim Al-Jauzi (751H - 1350M), Al Shifa’ oleh Qadi Iyadh dan Al- Mawahib Al-Laduniyyah oleh Al-Qastalany. Kitab ‘yang terakhir ini telah diberi komentar yang oleh A1- Zarqahi (wafat 1122H). Dalam zaman modern ini pula kita temui Kitab A1-Nabawiyyah Wa Athar A1-Muhammadiyyah karangan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan RamatuLlahi ‘alaih - mufti Makkáh dan mazhab Syafi’ie, kitab Nurul-Yaqin tulisan Syeikh Muhammad A1-Khudry dan banyak lagi kitab-kitáb yang ditulis dalam berbagai bahasa khususnya Arab,Urdhu dan Inggeris.

Satu lagi tulisan yang tidak disebutkan ialah ‘Hayat Muhammad’ (Life of Muhammad) tulisan Muhammad Hussam Haekal yang telah dikritik hebat oleh penulis-penulis karena buku ini dianggap sebagai sebuah tulisan yang ada kecenderungan, untuk menafikan unsur-unsur mu’jizat dalam kehidupan Rasullulah lantaran pengarangnya terpesona dengan pendekatah saintifik barat.

Kita hampir dapat menyatakan dengan pasti bahwa anggota masyarakat kita yang benar-benar meminati pengkajian ilmu, memahami dan menimba manfa’at dan padanya terlalu amat kecil khususnya di kalangan pemikir atau cendikiawan kita. Jika keadaan demikian berlaku di kalangan pemikir, apa yang dapat diharapkan dan bagaimana dengan orang awam? Suasana ini tidak boleh sama sekali dibiarkan berkepanjangan karena tanggungjawab memahami dan menghayati Islam melalui perjalanan hidup Rasullulah dalam proses pendidikan adalah tanggungjawab kita umat Islam.

Dalam hal ini pihak pemerintah adalah bertanggungjawab merancang satu sistem pendidikan memberi ruang yang sempuma bagi pertumbuhan ilmu kajian yang Islami jika kita benar benar mengharapkan umat Islam kembali menghayati ajaranNya. Sekalipun di pusat pengkajian menengah dan tinggi terdapat mata pelajaran agama Islam yang di dalamnya terkandung bagaimana cara hidup Rasullulah namun ia hanya berbentuk pengolahan cerita semata mata sedangkan perkara yang dituntut kita memahaminya adalah pengajaran-pengajaran dan i’tibar dan yang tersurat maupun yang tersirat demi manfaat umat Islam dalam gerak-usaha membawa Risalah Islam; membina individu, keluarga, masyarakat, pemerintahan, negeri dan wilayah Islam yang memperhitungkan aspek-aspek pendekatan kerja, pengkaderan, pertahanan dan kemanan , kekuasaan, hukum kekuatan dan yang seumpamanya. Perkara-perkara inilah yang perlu ditekankan dalam pengajian ilmu keislaman.

Sebenarnya usaha untuk mentafsirkan kitab – kitab ini didorong oleh dua faktor penting. Pertama karena menyadari kurangnya buku-buku ilmiah mengenai Islam di tanah air kita. Kedua: terdapat kelompok dari umat Islam tidak begitu tepat mentafsirkan apa yang ingin disampaikan oleh Rasullulah. Perkara ini tidaklah dapat dikesan dengan tepat, apakah ini merupakan manifestasi dan indoktrinasi oleh seteru-seteru Islam yang profesional kepada murid-muridnya? Ataupun apakah kekeliruan ini timbul dengan tidak disadari? Semoga hasil ini dan yang bakal disusuli pula dengan dapat memenuhi kekosongan yang terdapat di kalangan masyarakat Indonesia ini di samping dapat membetulkan mana-mana tafsiran dan kefahaman yang salah.

DARMO GANDUL

Pernahkah Anda mendengar suatu aliran kebatinan yang bernama Darmogandul? Aliran ini berasal dari tanah Jawa, disebarkan dengan bait-bait dalam ‘kitab sucinya’ yang penuh dengan caci maki, utamanya terhadap agama Islam. Kita berhutang banyak pada Prof. Rasjidi yang telah menerjemahkan naskah Darmogandul itu dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Simaklah beberapa petikannya di bawah ini :
“Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan dzikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, pada hakekatnya mereka itu terasa pahit dan asin.”
“Adapun orang yang menyebut nama Muhammad, Rasulullah, Nabi terakhir, ia sesungguhnya melakukan dzikir salah, Muhammad artinya makam atau kubur. Ra-su-lu-lah, artinya rasa yang salah. Oleh karena itu ia itu orang gila, pagi sore berteriak-teriak, dadanya ditekan dengan tangannya, berbisik-bisik, kepala ditaruh di tanah berkali-kali.”
“Semua makanan dicela, umpamanya : masakan cacing, dendeng kucing, pindang kera, opor monyet, masakan ular sawah, sate rase (seperti luwak), masakan anak anjing, panggang babi atau rusa, kodok dan tikus goreng.”
“Makanan lintah yang belum dimasak, makanan usus anjing kebiri, kare kucing besar, bistik gembluk (babi hutan), semua itu dikatakan haram. Lebih-lebih jika mereka melihat anjing, mereka pura-pura dirinya terlalu bersih.”
“Saya mengira, hal yang menyebabkan santri sangat benci kepada anjing, tidak sudi memegang badannya atau memakan dagingnya, adalah karena ia suka bersetubuh dengan anjing di waktu malam. Baginya ini adalah halal walaupun dengan tidak pakai nikah. Inilah sebabnya mereka tidak mau makan dagingnya.”
“Kalau bersetubuh dengan manusia tetapi tidak dengan pengesahan hakim, tindakannya dinamakan makruh. Tetapi kalau partnernya seekor anjing, tentu perkataan najis itu tidak ada lagi. Sebab kemanakah untuk mengesahkan perkawinan dengan anjing?”
Prof. Rasjidi juga telah membuat ringkasan ajaran aliran Darmogandul dalam beberapa poin, di antaranya :
Menurut Darmogandul, yang penting dalam Islam bukan sembahyang, tetapi syahadat “sarengat”. “Sarengat” artinya hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan. Hubungan seksual itu penting sekali, sehingga empat kiblat juga berarti hubungan seksual.
Darmogandul menafsirkan kata-kata pada ayat kedua dalam surah Al-Baqarah sebagai berikut : “Dzaalikal” artinya “jika tidur, kemaluan bangkit”, “kitaabu laa” artinya “kemaluan-kemaluan laki-laki masuk secara tergesa-gesa ke dalam kemaluan perempuan”, “raiba fiihi hudan” artinya “perempuan telanjang”, “lil muttaqiin” artinya “kemaluan laki-laki berasa dalam kemaluan perempuan”.
Mengenai poin terakhir di atas, saya harus meminta maaf. Saya tidak bermaksud untuk mengotori jurnal saya dengan hal senista ini, namun bagaimana pun kisah ini penting untuk diungkapkan. Demi kebenaran.
Rasanya pada titik ini saya harus meminta maaf juga kepada para pembaca karena saya terlalu lemah dan tak mampu mengendalikan perasaan. Ijinkanlah saya untuk tidak mengomentari lebih jauh mengenai aliran kebatinan Darmogandul ini, karena sungguh sulit sekali untuk tetap berkepala dingin di hadapan penghinaan mereka terhadap Allah, Rasul-Nya, dan Ad-Diin yang telah diridhai-Nya ini. Saya tidak sanggup berkata-kata lebih jauh dari ini.

Serat Dharmogandul ditulis jaman keraton Surakarta atau sekitar tahun 1900, padahal runtuhnya majapahit adalah tahun 1400, jadi ada perbedaan 500 tahun.

Penulis KItab Serat DHARMOGANDUL adalah terlihat TENDENSIUS, rasa cemburu" atas kejayaan Islam, sehingga mengarang Cerita ANTAGONIS dan FIKSI, dan berusaha membelokkan Islam, Misalnya ketika mengartikan kata "BAITULLAH di MAKAH atau BAIT ALLAH, jelas kata BAIT adalah berarti Rumah, tetapi dalam serat DHARMOGANDUL kata BAIT diartikan menjadi BAITO atau PERAHU. Karena dalam bahasa Jawa, PERAHU adalah BAITO. Jadi BAITULLAH bukan RUMAH ALLAH tetapi diartikan menjadi PERAHU ALLAH 5. Kejadian yang ditulis oleh DHARMOGANDUL jelas bertentangan dengan FAKTA sejarah, misalnya dalam Dharmogandul, BRAWIJAYA V adalah hendak dibunuh oleh adipati DEMAK, padahal dalam catatan sejarah, BRAWIJAYA V dihancurkan oleh Pemberontakan GIRINDHAWARDHANA. GIRINDHAWARDHANA adalah anak SUPRABA yang dahulu diusir oleh BHRAWIJAYA dan melarikan diri ke KEDIRI.. Girindhawardhana ini adalah RAJA MAJAPAHIT yang memerintah tahun 1474-1498. Girindhawardhana inilah yang memindahkan MAJAPAHIT ke KEDIRI.